Pages

Senin, 15 Juli 2013

Muara Kasih Ibu

Aku pernah bahkan sering merasa bahwa aku adalah seorang pecundang, aku adalah seorang pengecut, I am a looser, aku hanya seseorang yang bisa merengek-rengek seperti anak kecil yang tidak dibelikan balon atau es krim oleh orang tuanya ketika aku didera berbagai problematika kehidupan, ketika aku menghadapi ranjau dan onak yang begitu menyesakkan dada bahkan sering membuatku berpikir tak ada gunanya lagi aku ada didunia ini jika aku tak bisa membuat mereka bangga terhadapku, jika aku tak bisa menjadi seperti yang mereka inginkan, jika aku tak bisa melakukan hal-hal yang berguna bagi orang-orang disekitarku, aku merasa aku hanya benalu yang hidup diantara pohon-pohon subur, aku hanya parasit bagi mereka. Tapi, apakah dengan aku menghujat diriku sendiri, dengan aku mencela, menghina, mendzolimi diriku sendiri itu akan menyelesaikan semuanya? Apakah dengan cara itu semua masalah bisa teratasi? Jawabannya, Tidak! Tidak sama sekali. Itu hanya membuatku terus berputus asa, itu hanya membuatku terus terkungkung dalam ranjau yang kapan saja bisa menjebakku dan membuatku terluka parah hingga akhirnya aku tak bisa lagi melakukan hal-hal yang bisa membuat mereka bahagia.
Aku terus berpikir, dan berpikir, apakah aku akan tetap teguh dengan pendirianku yang keterbelakangan ini? Yang tak bisa berpikir maju, tak bisa berpikir kritis dalam mengahadapi bahtera hidup ini. Tidak! Aku harus bangkit, aku terlahir ke dunia ini sudah menjadi seorang pemenang dimana aku harus melawan jutaan sperma lainnya, akulah pemenang, I am the winner. Tak ada lagi alasan untuk mengatakan aku pecundang, aku terlahir sebagai seorang pemenang hingga hari ini dan seterusnya aku akan tetap menjadi pemenang.
Ketika aku telah merdeka dari pemikiran bodoh itu, sejenak ku terdiam. Seringkali kita mendengar petuah yang isinya dibalik kesuksesan seseorang, terdapat peranan ibu didalamnya. Tapi aku justru malah lupa akan hal itu, aku terlalu terlenakan oleh kemilaunya dunia yang membuatku terpedaya olehnya. Aku lupa betapa besarnya peranan ibu dalam setiap langkah kehidupanku. Ketika aku sibuk dengan duniaku, ibu seringkali mengirimkan pesan-pesan singkat bahkan seringkali meneleponku hanya untuk sekedar menanyakan, “Nak, sudah makan belum? Sedang apa sekarang?” dan aku selalu saja tak pernah menghiraukannya, aku jarang membalas pesannya, aku jarang mengangkat teleponnya dengan alasan, “Ah, ngapain sih sms cuma nanya gitu doang. Nanti sajalah balasnya, aku sibuk sekarang.” Itu yang sering terlontar dari mulutku setiap kali ibu atau ayah mengirimku pesan atau menelepon. Bahkan aku hampir tak punya waktu untuk mereka, ketika hari liburpun aku jarang pulang ke rumah karena  kesibukanku padahal kita lama sekali tidak berjumpa karena memang aku tidak tinggal dirumah, aku tinggal di rumah kos-kosan karena letak sekolahku yang memang cukup jauh dari rumah jadi tak mungkin rasanya bila harus pulang-pergi.
Semakin hilang saja kesempatan untuk bertemu, bertegur sapa dengan mereka. Aku berambisius untuk membahagiakan mereka, membuat mereka bangga dengan prestasi-prestasiku tapi aku sendiri sering menghiraukan mereka, aku tak pernah peduli dengan keadaan mereka, bahkan ketika ibu atau ayah acapkali mengirimku pesan, “Nak, sudah makan?” aku hanya menjawab sekenanya, “belum.” Ibu langsung menelepon jika beliau tahu bahwa aku belum makan, “Nak, makanlah terlebih dahulu, nanti kamu sakit. Belajarnya jangan terlalu di porsir, segala sesuatu itu hendaklah sesuai porsinya, tidak boleh berlebihan. Ayo makan dulu!” dan aku hanya menjawab, “iya, nanti.” Sebegitu acuhnyakah aku pada orangtuaku hingga ketika orangtuaku mengkhawatirkan aku, aku hanya menjawab sekenanya. Orangtuaku tahu saat itu pasti aku sedang sibuk dan ibu langsung mengatakan, “yasudah, mungkin kamu sedang sibuk sekarang. Maaf jika handphonemu seringkali berdering karena telepon atau pesan dari ibu, maaf jika dering itu mengganggu konsentrasimu, nak. Jangan lupa makan ya.” Setelah itu telepon terputus, dan aku tetap dingin pada ibu karena memang pernyataan ibu benar adanya bahwa dering handphoneku itu telah mengganggu belajarku, akhirnya handphone aku switch off supaya tak ada lagi yang mengganggu ketika aku mengerjakan semua tugas-tugas sekolah yang memang setiap hari selalu ada dan selalu saja menumpuk, aku sering keteteran, kewalahan mengerjakan semua ini, tapi ketika aku mulai jatuh lagi aku selalu teringat wajah mereka, aku ingin sekali membuat mereka bahagia, dan ketika itu aku langsung mengirim pesan singkat pada mereka, “ayah, ibu, doakan aku disini. Sebentar lagi aku ujian.” Mereka membalasnya, “tanpa kau mintapun, kami disini selalu mendoakan yang terbaik untukmu sayang. Ma’annajah!”
Aku bangkit lagi, dan hal itu terulang kembali. Aku lupa segalanya, aku lupa makan, lupa dengan mereka, aku kembali lagi dengan tabi’atku yang tak pernah menghiraukan mereka.
Hingga pada suatu hari ketika aku telah mencapai puncak keemasanku, aku mendapatkan apa yang aku mau, apa yang aku usahakan selama ini, aku menjadi juara kelas, aku lulus dengan nilai yang cukup membuatku merasa bangga, semua usahaku berbanding lurus dengan apa yang aku terima saat itu.
Waktu terus berputar, dan kehidupanpun berulang, aku kembali disibukkan dengan tugas-tugas didunia yang baru, tapi kini ada yang berbeda. Ketika aku sibuk belajar, setiap malam handphone itu tak berdering lagi, tak ada lagi yang mengirimku pesan “Nak, sudah makan belum?” tak ada lagi telepon, yang menyemangatiku, menyuruhku untuk makan, tak ada yang mensupportku, semuanya tinggal hanyalah kenangan, kenangan yang setiap saat terpugar rapi dalm benakku, yang setiap kali menimbulkan penyesalan yang teramat dalam. Ibu tak pernah lagi mengirimku sms, sedang aku dikosan baruku sangat merindukannya, akupun tak pernah meneleponnya, dan sejenak aku menyingkirkan rasa rindu itu dengan aku menyibukkan diriku sendiri dengan semua kegiatanku.
Beberapa hari setelah itu, aku mendapat kabar bahwa ibu jatuh sakit. Dan kabar itu bersamaan dengan diadakannya suatu acara dikampus, dan saat itu aku sebagai panitianya. Aku berniat untuk pulang, untuk menengok ibu, tetapi aku sibuk, sangat sibuk. Akhirnya aku mengurungkan niat untuk pulang, aku mengulur waktu pulang.
Hingga 3 hari kemudian aku baru mengabarkan pada orang rumah bahwa aku segera pulang. Tak ada jawaban dari mereka, tetapi aku tetap pulang. dan aku dijemput di terminal oleh ayahku, ketika dijalan tak ada dialog diantara kami, kami saling terdiam, dingin, kaku.
Sesampainya dirumah, aku mengucapkan salam, tak ada jawaban, sepi, sunyi. Aku mengucapkannya sekali lagi, dan lagi, sepi. Hanya terdengar semilir angin dari luar sana, ayah terdiam dan duduk dikursi beranda rumah. Aku masuk ke kamar ibu dengan wajah berseri, dan tak tahan untuk meluapkan rasa rindu pada ibu.
Dan ketika aku membuka pintu, ruangan itu kosong. Tak ada siapapun disana, yang ada hanya gamis favorit ibu bersama dengan kerudung pemberianku yang tersampai digantungan bajunya yang digantungkan didepan lemari pakaian ibu, dan foto ibu persis terpasang didinding kamar itu. Aku berlari keluar dan bertanya pada ayah, “Yah, ibu dimana? Kok dikamar tidak ada? Aku kangen ingin bertemu dengannya, aku ingin ngobrol dengan ibu, aku ingin menunjukkan hasil IP-ku ini yah, supaya ibu bangga terhadapku, mungkin ini bisa meringankan sakit ibu, yah.” Ayahku terdiam. “Ayah, jawab yah. Jangan diam terus. Dimana ibu?” aku mulai gelisah karena ayah tak menjawab pertanyaanku, sedari tadi ayah bersikap dingin padaku. Kemudian ayah masuk kamar dan seketika itu juga ayah berlinang air mata. Aku bingung, aku langsung menghampiri ayah, aku bertanya-tanya sebenarnya apa yang telah terjadi?  Sebelumnya aku tak pernah melihat ayah menangis seperti itu. Ayah langsung membuka lemari dan membawa secarik kertas dan memberikannya padaku, aku langsung membukanya dan membacanya.
Anakku, ketika kau membaca surat ini mungkin ibu sudah tak ada lagi disampingmu, nak. Maafkan ibu karena ibu tak mengabarimu lagi, Nak, bolehkah ibu menyampaikan sesuatu?
Anakku, Dengan segala kesibukkanmu,ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat.Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak ? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak. Anakku, masih teringat oleh ibumu ini kenangan kenangan manis ketika engkau masih ada didekapanku, dipelukanku, engkau merengek meminta dibelikan ini itu, tapi ibu tak pernah marah, ibu malah senang mendengarkan tawamu bahkan tangismu.
Tapi kini dimanakah engkau nak?ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini . hari berganti hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah,dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu. Tapi kau tak pulang-pulang. Padahal,andai kau tahu nak,ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu setiap hari, setiap minggu,memastikan engkau baik-baik saja,memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.Ibu memang tak seaktif engkau, tak secerdas engkau tapi bukankah aku ini ibumu? yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku..
Sebagian hati ibu mulai bertanya nak,kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak ? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu ?Ah,waktumu terlalu mahal nak.Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu..
Nak, waktuku untuk berada didunia ini sudah tak lama lagi, ibu bisa merasakannya sekarang, ibu lemah nak. Ibu saaangat merindukanmu disini, ibu hanya bisa berdoa untuk kesuksesanmu, semoga Allah senantiasa melindungimu disana. Maafkan ibu jika selama ini pesan-pesan ibu membuatmu risih, petuah-petuah ibu membuat telingamu panas tapi percayalah nak, ibu melakukan semua itu karena ibu sayang padamu, karena ibu tahu ibu tak bisa selamanya berada dibelakang untuk mensupportmu, dan kini masa itu telah datang nak. Maafkan ibu, ibu hanya bisa pamit melalui surat ini karena ibu tak mau mengganggumu disana, jaga dirimu baik-baik nak. Ketika ibu telah bertemu dengan Allah nanti, ibu akan memohon agar Allah senantiasa menjagamu.
                                                                                    Salam sayang,
                                                                                    IBU
                                                                        Ibu yang selalu merindukanmu
Aku menangis sejadi-jadinya menyesali apa yang telah kuperbuat selama ini pada ibu yang teramat aku cintai, kini aku hanya bisa melihatnya difoto, aku hanya bisa mengunjungi tempat dimana namanya tertulis diatas batu nisan. Maafkan aku ibu, maaf aku telah melukai hatimu yang lembut itu.
“Pohon ingin tetap tenang, namun angin terus berhembus; anak ingin berbakti, namun orangtua sudah tiada”, pastikan penyesalan seperti ini jangan sampai terjadi dalam kehidupan kita ini. Kita harus tahu bahwa ketika kita membuka pintu rumah dan memanggil “Ibu”, masih ada orang orang yang menyahut adalah suatu hal yang sangat membahagiakan. Dari itu, marilah kita menghargai kasih sayang termurni dan paling sulit diperoleh di dunia ini, kita juga harus membalas budi luhur ibu dengan cinta kasih kita yang paling tulus.
seorang ibu tak pernah meminta harta benda sebagai gantinya, tak pernah meminta untuk disanjung dan dipuja, yang ia harapkan anaknya tumbuh menjadi seseorang yang berguna. Ada rahman dalam keluh kesahnya, ada rahim dalam harap cemasnya.
Ibu, aku rindu!
Ku melangkah tanpa arah
Ku berjalan begitu resah
Kemanakah jalan yang kutempuh
Tuk dapatkan cinta kasihmu
Kau penerang dalam kegelapan
Kau penuntun dalam ketidaktahuan
Cinta kasihmu yang kudambakan dalam setiap kehidupan
Ibu, aku rindu
Ibu, kasih sayangmu yang slalu ku tunggu
Andai bisa kuputar waktu
Aku ingin selalu bersamamu, menjagamu

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright 2009 Catatan Kalbu-ku. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator