Aku pernah bahkan sering merasa bahwa aku adalah seorang pecundang,
aku adalah seorang pengecut, I am a looser, aku hanya seseorang yang
bisa merengek-rengek seperti anak kecil yang tidak dibelikan balon atau es krim
oleh orang tuanya ketika aku didera berbagai problematika kehidupan, ketika aku
menghadapi ranjau dan onak yang begitu menyesakkan dada bahkan sering membuatku
berpikir tak ada gunanya lagi aku ada didunia ini jika aku tak bisa membuat
mereka bangga terhadapku, jika aku tak bisa menjadi seperti yang mereka
inginkan, jika aku tak bisa melakukan hal-hal yang berguna bagi orang-orang
disekitarku, aku merasa aku hanya benalu yang hidup diantara pohon-pohon subur,
aku hanya parasit bagi mereka. Tapi, apakah dengan aku menghujat diriku
sendiri, dengan aku mencela, menghina, mendzolimi diriku sendiri itu akan
menyelesaikan semuanya? Apakah dengan cara itu semua masalah bisa teratasi?
Jawabannya, Tidak! Tidak sama sekali. Itu hanya membuatku terus berputus asa,
itu hanya membuatku terus terkungkung dalam ranjau yang kapan saja bisa
menjebakku dan membuatku terluka parah hingga akhirnya aku tak bisa lagi
melakukan hal-hal yang bisa membuat mereka bahagia.
Aku terus berpikir, dan berpikir, apakah aku akan tetap teguh
dengan pendirianku yang keterbelakangan ini? Yang tak bisa berpikir maju, tak
bisa berpikir kritis dalam mengahadapi bahtera hidup ini. Tidak! Aku harus
bangkit, aku terlahir ke dunia ini sudah menjadi seorang pemenang dimana aku
harus melawan jutaan sperma lainnya, akulah pemenang, I am the winner.
Tak ada lagi alasan untuk mengatakan aku pecundang, aku terlahir sebagai
seorang pemenang hingga hari ini dan seterusnya aku akan tetap menjadi
pemenang.
Ketika aku telah merdeka dari pemikiran bodoh itu, sejenak ku
terdiam. Seringkali kita mendengar petuah yang isinya dibalik kesuksesan
seseorang, terdapat peranan ibu didalamnya. Tapi aku justru malah lupa akan hal
itu, aku terlalu terlenakan oleh kemilaunya dunia yang membuatku terpedaya
olehnya. Aku lupa betapa besarnya peranan ibu dalam setiap langkah kehidupanku.
Ketika aku sibuk dengan duniaku, ibu seringkali mengirimkan pesan-pesan singkat
bahkan seringkali meneleponku hanya untuk sekedar menanyakan, “Nak, sudah makan
belum? Sedang apa sekarang?” dan aku selalu saja tak pernah menghiraukannya,
aku jarang membalas pesannya, aku jarang mengangkat teleponnya dengan alasan,
“Ah, ngapain sih sms cuma nanya gitu doang. Nanti sajalah balasnya, aku sibuk
sekarang.” Itu yang sering terlontar dari mulutku setiap kali ibu atau ayah mengirimku
pesan atau menelepon. Bahkan aku hampir tak punya waktu untuk mereka, ketika
hari liburpun aku jarang pulang ke rumah karena
kesibukanku padahal kita lama sekali tidak berjumpa karena memang aku
tidak tinggal dirumah, aku tinggal di rumah kos-kosan karena letak sekolahku
yang memang cukup jauh dari rumah jadi tak mungkin rasanya bila harus
pulang-pergi.
Semakin hilang saja kesempatan untuk bertemu, bertegur sapa dengan
mereka. Aku berambisius untuk membahagiakan mereka, membuat mereka bangga dengan
prestasi-prestasiku tapi aku sendiri sering menghiraukan mereka, aku tak pernah
peduli dengan keadaan mereka, bahkan ketika ibu atau ayah acapkali mengirimku
pesan, “Nak, sudah makan?” aku hanya menjawab sekenanya, “belum.” Ibu langsung
menelepon jika beliau tahu bahwa aku belum makan, “Nak, makanlah terlebih
dahulu, nanti kamu sakit. Belajarnya jangan terlalu di porsir, segala sesuatu
itu hendaklah sesuai porsinya, tidak boleh berlebihan. Ayo makan dulu!” dan aku
hanya menjawab, “iya, nanti.” Sebegitu acuhnyakah aku pada orangtuaku hingga
ketika orangtuaku mengkhawatirkan aku, aku hanya menjawab sekenanya. Orangtuaku
tahu saat itu pasti aku sedang sibuk dan ibu langsung mengatakan, “yasudah,
mungkin kamu sedang sibuk sekarang. Maaf jika handphonemu seringkali berdering
karena telepon atau pesan dari ibu, maaf jika dering itu mengganggu
konsentrasimu, nak. Jangan lupa makan ya.” Setelah itu telepon terputus, dan
aku tetap dingin pada ibu karena memang pernyataan ibu benar adanya bahwa
dering handphoneku itu telah mengganggu belajarku, akhirnya handphone aku switch
off supaya tak ada lagi yang mengganggu ketika aku mengerjakan semua
tugas-tugas sekolah yang memang setiap hari selalu ada dan selalu saja
menumpuk, aku sering keteteran, kewalahan mengerjakan semua ini, tapi ketika
aku mulai jatuh lagi aku selalu teringat wajah mereka, aku ingin sekali membuat
mereka bahagia, dan ketika itu aku langsung mengirim pesan singkat pada mereka,
“ayah, ibu, doakan aku disini. Sebentar lagi aku ujian.” Mereka membalasnya,
“tanpa kau mintapun, kami disini selalu mendoakan yang terbaik untukmu sayang.
Ma’annajah!”
Aku bangkit lagi, dan hal itu terulang kembali. Aku lupa segalanya,
aku lupa makan, lupa dengan mereka, aku kembali lagi dengan tabi’atku yang tak
pernah menghiraukan mereka.
Hingga pada suatu hari ketika aku telah mencapai puncak keemasanku,
aku mendapatkan apa yang aku mau, apa yang aku usahakan selama ini, aku menjadi
juara kelas, aku lulus dengan nilai yang cukup membuatku merasa bangga, semua
usahaku berbanding lurus dengan apa yang aku terima saat itu.
Waktu terus berputar, dan kehidupanpun berulang, aku kembali
disibukkan dengan tugas-tugas didunia yang baru, tapi kini ada yang berbeda.
Ketika aku sibuk belajar, setiap malam handphone itu tak berdering lagi, tak
ada lagi yang mengirimku pesan “Nak, sudah makan belum?” tak ada lagi telepon,
yang menyemangatiku, menyuruhku untuk makan, tak ada yang mensupportku,
semuanya tinggal hanyalah kenangan, kenangan yang setiap saat terpugar rapi
dalm benakku, yang setiap kali menimbulkan penyesalan yang teramat dalam. Ibu
tak pernah lagi mengirimku sms, sedang aku dikosan baruku sangat merindukannya,
akupun tak pernah meneleponnya, dan sejenak aku menyingkirkan rasa rindu itu
dengan aku menyibukkan diriku sendiri dengan semua kegiatanku.
Beberapa hari setelah itu, aku mendapat kabar bahwa ibu jatuh
sakit. Dan kabar itu bersamaan dengan diadakannya suatu acara dikampus, dan
saat itu aku sebagai panitianya. Aku berniat untuk pulang, untuk menengok ibu,
tetapi aku sibuk, sangat sibuk. Akhirnya aku mengurungkan niat untuk pulang,
aku mengulur waktu pulang.
Hingga 3 hari kemudian aku baru mengabarkan pada orang rumah bahwa
aku segera pulang. Tak ada jawaban dari mereka, tetapi aku tetap pulang. dan
aku dijemput di terminal oleh ayahku, ketika dijalan tak ada dialog diantara
kami, kami saling terdiam, dingin, kaku.
Sesampainya dirumah, aku mengucapkan salam, tak ada jawaban, sepi,
sunyi. Aku mengucapkannya sekali lagi, dan lagi, sepi. Hanya terdengar semilir
angin dari luar sana, ayah terdiam dan duduk dikursi beranda rumah. Aku masuk
ke kamar ibu dengan wajah berseri, dan tak tahan untuk meluapkan rasa rindu
pada ibu.
Dan ketika aku membuka pintu, ruangan itu kosong. Tak ada siapapun
disana, yang ada hanya gamis favorit ibu bersama dengan kerudung pemberianku
yang tersampai digantungan bajunya yang digantungkan didepan lemari pakaian
ibu, dan foto ibu persis terpasang didinding kamar itu. Aku berlari keluar dan
bertanya pada ayah, “Yah, ibu dimana? Kok dikamar tidak ada? Aku kangen ingin
bertemu dengannya, aku ingin ngobrol dengan ibu, aku ingin menunjukkan hasil
IP-ku ini yah, supaya ibu bangga terhadapku, mungkin ini bisa meringankan sakit
ibu, yah.” Ayahku terdiam. “Ayah, jawab yah. Jangan diam terus. Dimana ibu?”
aku mulai gelisah karena ayah tak menjawab pertanyaanku, sedari tadi ayah
bersikap dingin padaku. Kemudian ayah masuk kamar dan seketika itu juga ayah
berlinang air mata. Aku bingung, aku langsung menghampiri ayah, aku
bertanya-tanya sebenarnya apa yang telah terjadi? Sebelumnya aku tak pernah melihat ayah
menangis seperti itu. Ayah langsung membuka lemari dan membawa secarik kertas
dan memberikannya padaku, aku langsung membukanya dan membacanya.
Anakku,
ketika kau membaca surat ini mungkin ibu sudah tak ada lagi disampingmu, nak.
Maafkan ibu karena ibu tak mengabarimu lagi, Nak, bolehkah ibu menyampaikan
sesuatu?
Anakku,
Dengan segala kesibukkanmu,ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar
waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat.Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi
apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak ?
Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan
menghabiskan waktu bersamamu nak. Anakku, masih teringat oleh ibumu ini
kenangan kenangan manis ketika engkau masih ada didekapanku, dipelukanku,
engkau merengek meminta dibelikan ini itu, tapi ibu tak pernah marah, ibu malah
senang mendengarkan tawamu bahkan tangismu.
Tapi kini dimanakah engkau nak?ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini . hari berganti hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah,dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu. Tapi kau tak pulang-pulang. Padahal,andai kau tahu nak,ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu setiap hari, setiap minggu,memastikan engkau baik-baik saja,memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.Ibu memang tak seaktif engkau, tak secerdas engkau tapi bukankah aku ini ibumu? yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku..
Tapi kini dimanakah engkau nak?ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini . hari berganti hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah,dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu. Tapi kau tak pulang-pulang. Padahal,andai kau tahu nak,ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu setiap hari, setiap minggu,memastikan engkau baik-baik saja,memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.Ibu memang tak seaktif engkau, tak secerdas engkau tapi bukankah aku ini ibumu? yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku..
Sebagian
hati ibu mulai bertanya nak,kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini
nak ? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan
keberhasilan acaramu ?Ah,waktumu terlalu mahal nak.Sampai-sampai ibu tak lagi
mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu..
Nak,
waktuku untuk berada didunia ini sudah tak lama lagi, ibu bisa merasakannya
sekarang, ibu lemah nak. Ibu saaangat merindukanmu disini, ibu hanya bisa
berdoa untuk kesuksesanmu, semoga Allah senantiasa melindungimu disana. Maafkan
ibu jika selama ini pesan-pesan ibu membuatmu risih, petuah-petuah ibu membuat
telingamu panas tapi percayalah nak, ibu melakukan semua itu karena ibu sayang
padamu, karena ibu tahu ibu tak bisa selamanya berada dibelakang untuk
mensupportmu, dan kini masa itu telah datang nak. Maafkan ibu, ibu hanya bisa
pamit melalui surat ini karena ibu tak mau mengganggumu disana, jaga dirimu
baik-baik nak. Ketika ibu telah bertemu dengan Allah nanti, ibu akan memohon
agar Allah senantiasa menjagamu.
Salam
sayang,
IBU
Ibu
yang selalu merindukanmu
Aku menangis sejadi-jadinya menyesali apa yang telah
kuperbuat selama ini pada ibu yang teramat aku cintai, kini aku hanya bisa
melihatnya difoto, aku hanya bisa mengunjungi tempat dimana namanya tertulis
diatas batu nisan. Maafkan aku ibu, maaf aku telah melukai hatimu yang lembut
itu.
“Pohon ingin tetap tenang, namun angin terus
berhembus; anak ingin berbakti, namun orangtua sudah tiada”, pastikan
penyesalan seperti ini jangan sampai terjadi dalam kehidupan kita ini. Kita
harus tahu bahwa ketika kita membuka pintu rumah dan memanggil “Ibu”, masih ada
orang orang yang menyahut adalah suatu hal yang sangat membahagiakan. Dari itu,
marilah kita menghargai kasih sayang termurni dan paling sulit diperoleh di
dunia ini, kita juga harus membalas budi luhur ibu dengan cinta kasih kita yang
paling tulus.
seorang ibu tak pernah meminta harta benda sebagai
gantinya, tak pernah meminta untuk disanjung dan dipuja, yang ia harapkan
anaknya tumbuh menjadi seseorang yang berguna. Ada rahman dalam keluh kesahnya,
ada rahim dalam harap cemasnya.
Ibu, aku rindu!
Ku
melangkah tanpa arah
Ku berjalan
begitu resah
Kemanakah
jalan yang kutempuh
Tuk
dapatkan cinta kasihmu
Kau
penerang dalam kegelapan
Kau
penuntun dalam ketidaktahuan
Cinta
kasihmu yang kudambakan dalam setiap kehidupan
Ibu, aku
rindu
Ibu, kasih
sayangmu yang slalu ku tunggu
Andai bisa
kuputar waktu
Aku ingin
selalu bersamamu, menjagamu

0 komentar:
Posting Komentar